Bagi para pemain esports, terutama di Dota 2 skill memang menjadi salah satu tolak ukur utama untuk memprediksi kesuksesan sebuah tim atau seorang player. Tetapi skill sendiri saja tidak cukup. Loh kok bisa? Ada satu aspek krusial yang kadang-kadang dilupakan oleh player, yaitu soft skills. Soft skills atau kemampuan mental untuk menyikapi kejadian dengan pikiran yang jernih jarang sekali di highlight dalam pertandingan. Bahkan jarang sekali ada pujian terkait soft skill player di esports. Nah untuk membuktikan hipotesis author, author akan mengungkap 3 kasus dimana player dengan skill tinggi malah membuat timnya di posisi kurang baik dalam pertandingan. Yuk simak terus artikel ini ya!

Runtuhnya Kesempatan Gambit Esports ke TI 9 Karena Tingkah Afoninje

Kejadian ini terjadi ketika Afoninje, carry dari tim Gambit Esports melakukan tindakan yang kurang profesional dalam game, yaitu rage quit. Rage quit umum pada public game di Dota 2. Singkatnya rage quit adalah tindakan dimana player keluar/disconnect dari Game tanpa basa-basi. Tindakan ini sangat dibenci di publik game karena dapat merugikan pemain lain yang masih berusaha untuk memenangkan game tersebut.

Kronologinya pada saat itu dimulai ketika tim Gambit Esports yang posisinya sedang bertahan dan ketinggalan satu Barrack dari tim lawannya, Winstrike. Karena posisi yang kurang menguntungkan ini Afoninje memutuskan untuk melakukan split push sendirian agar timnya bisa memberi sedikit tekanan. Sayangnya, untuk mengcounter push ini tim Winstrike berhasil menjebak Afoninje. Pada saat itu karena kesalahan Afoninje juga, dia tidak mengaktifkan BKB saat teleport akhirnya dia mati. Setelah itulah tiba-tiba Afoninje mengetik “Good Game” keseluruh pemain tanpa mengkonsultasikan dulu kepada timnya.

Caster dan beberapa penonton yang saat itu melihat kejadian tersebut langsung mengutuk perbuatan Afoninje. Bahkan organisasinya sendiri juga mengeluarkan statement yang menyebut tingkah laku Afoninje sebagai tindakan yang tidak pantas dan kurang profesional. Dari kekalahan ini, kondisi internal tim Gambit Esports langsung memanas dan hasilnya adalah mereka tidak lolos playoff TI Qualifier di regional Rusia dan sekitarnya. Padahal pada hari itu mereka juga melawan tim yang sedang posisinya juga kurang baik yaitu Flytomoon.

Tindakan Afoninje yang tidak pantas dan kurang professional. Dok Gambit Esports Twitter

Hilangnya Kesempatan Emas Skemberlu untuk Membuktikan Diri di Complexity Gaming

Eternalenvy adalah salah satu figur di Dota 2 yang juga ahli dalam menemukan bakat terpendam. Terbukti dia menemukan talent bernama Skemberlu saat bermain di Fnatic atau di regional Asia Tenggara. Setelah keluar dari Fnatic, Eternalenvy yang bergabung ke Complexity mengajak Skemberlu untuk bermain bersama di Complexity. Singkat cerita, Skemberlu menjadi salah satu “young guns” talent dari Asia Tenggara yang bisa berkompetisi di turnamen Minor atau Major dunia.

Sayang kesempatan itu langsung disia-siakan oleh Skemberlu. Pada saat bermain di salah satu turnamen minor, yaitu DreamLeague Season 10 Skemberlu mengatakan kata-kata yang tidak pantas. Saat itu melawan Royal Never Give Up(RNG), pemain ini menulis di all chat “Gl chingchong”. Seperti yang teman-teman ketahui RNG adalah tim China dan chingchong adalah kata panggilan dengan konotasi yang sangat negatif untuk memanggil China. Bayangkan di turnamen yang sangat serius dan formal Skemberlu mengatakan hal tersebut di depan million viewers yang sedang menonton. Saat itu tim RNG hanya membalas dengan “?” tapi game jadi berjalan agak canggung. Game itu pun berakhir dengan kemenangan RNG. Tapi kata-kata itu tetap berbekas ke semua viewer di China. Walaupun Skemberlu sudah meminta maaf atas kata-katanya tersebut, tetap saja banyak viewer dari China yang marah dan tetap menekan Skemberlu untuk ditindak dan di ban dari turnamen.

Skemberlu meminta maaf di Twitter. Dok: Twitter Skemberlu

Tindakan yang sangat fatal ini juga membuat Skemberlu didenda oleh timnya, Complexity Gaming hingga ia dikeluarkan juga dari roster Dota 2 Complexity. Belum lagi pada turnamen tersebut, Complexity juga tidak mendapatkan hasil yang maksimal dan kalah cepat.  Begitulah akhir karir singkat dari Skemberlu, pemain yang sempat digadang-gadang jadi rising star dari Asia Tenggara. Sayang bukan karena skillnya, tapi karena soft skillnya lagi-lagi harus mencoreng karirnya sendiri.

Complexity Gaming memberikan sanksi kepada Skemberlu. Dok: Twitter Complexity Gaming

Kasus Rasis Player Dota 2

Tercatat ada beberapa player yang pernah terkena semprit komunitas Dota 2 karena melakukan tindak rasis. Selain Skemberlu, ada dua pemain Dota 2 yang terkena kasus rasis yaitu Kuku dari tim TNC Predator dan satu lagi adalah Ceb. Ceb, pemain yang membela OG Esports, mengeluarkan kata-kata rasis pada saat bermain public game melawan orang Russia. Lalu untuk Kuku, pemain TNC ini kasusnya juga hampir sama dengan Ceb, mengatakan kata-kata kasar kepada pemain China di Public game.

Rasisme ini dampaknya sangat buruk bagi scene Dota 2 karena membuat esports distempel negatif. Tapi kasus ini selalu saja terulang terus-menerus. Hingga pada suatu titik, salah satu pemain dari Virtus Pro, Solo mengecam dan membuat artikel khusus terkait rasisme yang ditujukan ke Ceb. Bahkan Solo juga sempat mengutarakan keinginannya untuk memboikot OG jika Ceb masih tampil di turnamen Epicenter Major. Untungnya dikarenakan itikad baik dari Ceb dan OG permasalahan ini bisa cepat selesai. Akan tetapi sayangnya reputasi Ceb dan OG juga sudah sempat ikut tercoreng.

Kasus Ceb yang menjadi sorotan komunitas Rusia. Dok: VK Solo

Nah dari contoh-contoh kasus diatas, penting gak sih soft skill menurut Aegiser? Dari kasus ini Aegiser bisa jadikan pelajaran terutama kalian yang punya aspirasi untuk jadi pemain pro esports gimana pentingnya menjaga tingkah laku dan soft skills. Skill itu nomor satu tapi tetap bagi author soft skills juga bakal membantu banyak di perjalanan karir pemain esports.


Nah, buat kalian yang ingin ikut berkontribusi di dunia esports Indonesia yuk gabung sebagai coach atau content creator di Aegis? Gak kalah seru juga kalau kamu Ingin lebih jago di game favoritmu ? Yuk gabung dengan AEGIS, First Indonesia Educational Esports Platform!

Kunjungi

AEGIS (Akademi Esports Indonesia)

www.ae-gis.id

Instagram : aegis.gg

Facebook: @aegis.id