Rubix Esports. Warnet dari player untuk player

Sebuah warnet berdiri tegak di jalan Klampis, Surabaya, Indonesia. Itulah bisnis pertama yang dilalui oleh Aufa Bassam. Dia memberanikan diri untuk membuat warnet dengan meminjam uang kepada kedua orang tuanya. Pinjaman itu juga tidak cukup untuk membuat warnet itu.  Alhasil dia harus berkongsi dengan salah satu pemilik warnet juga di Surabaya. Dari sinilah muncul Rubixesports, warnet yang dibuat dengan spirit anak muda yang waktu itu juga masih jadi player di Dota 2.

Sebelum berlanjut, ada back story didalam cerita ini. Dulu saya dan Aufa yang notabene pemain game, suka bermain di warnet. Kami berdua suka bermain Bersama mulai dari jaman Ragnarok Online, Dota 1, Luna Online, Heva Online, dan banyak game online lainnya. Kami berdua cukup kompetitif, tapi untuk Aufa kompetitif itu lebih dari itu. Kompetitif menurutnya adalah menjadi salah satu pemain terbaik di game apapun yang dimainkan. Singkat cerita, warnet yang sering kami kunjungi adalah warnet di Klampis. Di warnet itu jugalah kami bermimpi, asik juga nih kalau punya warnet, ujarku saat itu.

Cerita kedua bermula ketika Aufa mempunyai permasalahan di sekolahnya. Aufa sempat hamper vakum dari sekolahnya waktu di SMA. SMA dengan standar dan regulasinya yang macam-macam tidak cocok buat adik saya yang suka ilmu praktis. Waktu-waktu susah itulah dia habiskan bermain di warnet. Warnet memang tidak pernah terpisahkan dari kehidupan kami berdua. Kalau bisa dibilang, dulu daripada pergi keluar, cangkruk, dan hal-hal normal yang remaja lain lakukan tidak kami lakukan. Kami bangga bagian dari warnet dan bermain game disana. Kami asik dengan dunia kami.

Lanjut, Aufa waktu itu sempat suka berdiam di salah satu warnet di dekat Ubaya. Saya pun juga sering kesana karena SMA saya yang dekat. Waktu itu merupakan waktu yang agak susah bagi keluarga kami. Kedua orang tua kami sibuk sekali waktu itu sehingga bagi kami, kedua laki-laki yang dituntut untuk mandiri juga tidak enak untuk mengganggu mereka. Terutama adik saya. Kalau ada masalah dia selalu diam dan tidak mau banyak curhat. Hingga waktu itu baru ketahuan kalau adik saya suka membolos ke warnet.

Menyambungkan kedua cerita diatas, ternyata ada dua hal yang menarik. Satu, kalau saja kami tidak bermain game di warnet, kami tidak mungkin mempunyai rubixesports yang sekarang. Kedua, kalau saja adik saya menghabiskan waktu susahnya bukan di warnet, mungkin warnet rubix hanyalah mimpi saja. Karena apa? Karena ternyata owner warnet yang Aufa sering main disitu disaat masa-masa dia membolos adalah partnernya di berbagai bisnis dia sekarang. Itulah indahnya connecting the dots. Tidak semua kegagalan dan kesalahan dimasa lalu itu sia-sia. Sebaliknya kesuksesan dimasa lalu pun bisa jadi tidak ada artinya, karena semuanya sama-sama usaha dan usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

Itulah awal garis terbentang yang sebelumnya putus tanpa bertemu, tiba-tiba dipertemukan. Itulah indahnya berusaha dengan passion. Keahlian, kegagalan, dan kesuksesan yang dilalui pelan-pelan terbentuk layaknya bunga Bank. Tahun 2017, tahun itulah adik saya mengambil bunga bank yang di pupuknya. Selesai studi diluar, ditahun inilah kami memulai dua karir yang berbeda. Adik menjadi wirausaha dengan warnetnya sedangkan saya menjadi karyawan di salah satu Startup di Jakarta. Walau karir kita berbeda kita tetap punya satu mimpi, mimpi untuk menorengkan nama kami dibidang esports di Indonesia. Rubixesports, itulah landmark pertama kami!