Esports adalah hype dan hits masa kini bagi para millennials. Tak ayal mulai muncul banyak organisasi, personaliti, hingga event organizer baru khusus untuk esports. Dengan semakin menjamurnya budaya mengkonsumsi esports sebagai entertainment, ekspektasi kenaikan bisnis pun juga dinanti oleh para pebisnis yang berkecimpung di esports. Dari segi pemerintah bahkan Presiden Jokowi juga mendukung esports dengan menyelenggarakan piala presiden. Sungguh jika dikelola dengan baik esports bisa menjadi salah satu potensi yang besar dimasa yang akan datang.

Akan tetapi, dengan trend dan hype yang ada sekarang ini, esports juga jadi incaran bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau kurang ahli dalam mengelola bisnis di esports. Sampai saat ini author amati ada banyak kasus yang seharusnya tidak perlu sampai terjadi, tapi sayangnya terjadi juga dan sangat merugikan scene esports. Tercatat ada dua turnamen di Asia Tenggara, Satu organisasi di Asia Tenggara, dan satu organisasi di Amerika yang dikelola kurang baik sehingga mencoreng nama professional esports. Mau tau lebih detailnya? ikuti terus ya artikel ini, nanti author paparkan satu-satu

Forward Gaming Sebuah Pembelajaran Pengelolaan Tim

Forward Gaming adalah sebuah organisasi yang terkenal dengan roster Dota 2 dan Fortnite. Salah satu achievement terbesar mereka barusan ini adalah dengan memenangkan qualifier ke The International (TI) 9. Dibesut oleh mantan Account Manager VP, Daniel Dayshotan, Forward Gaming merupakan salah satu powerhouse Dota 2 di Amerika. Walau mereka masih kalah dengan EG, tim terkuat pertama di Amerika, tetapi dari segi skill mereka masih menjadi tim terkuat kedua atau ketiga di Amerika sana.

Sayangnya selepas TI 9, ada berita buruk yang dikeluarkan oleh CEO Forward Gaming. Ternyata organisasi Forward Gaming per tanggal 21 Juli 2019 membubarkan diri dengan masih berhutang sebesar $36,000 ke para pemain dan staf nya. Waaah… mengagetkan dan sangat disayangkan sekali ya guys? pasti kalian gak bakal mengira hal ini bisa terjadi. Disisi lain banyak organisasi yang dengan senang hati mencari tim unggulan agar bisa membawa nama organisasinya ke TI, lah ini malah disband padahal sudah dapat slot ke TI. Untuk lebih lengkap terkait press release dari Forward Gaming kamu juga bisa melihat gambar dibawah ini ya.

Surat terakhir dari CEO Forward Gaming. Dok: Twitlonger David Dashtoyan

Update: Untungnya saat ini roster forward gaming sudah diakuisisi oleh Newbee, organisasi China yang dengan roster aslinya gagal masuk ke TI.

Hebatnya Tigers tim SEA juara Minor, tapi...

Tigers tim Dota 2 yang saat ini sudah disband adalah suatu organisasi yang muncul pada awal bulan Maret 2018. Digawangi oleh 1437 yang saat itu keluar dari TNC Tigers, Tigers menjadi momok bagi tim di SEA dengan hampir saja memenangi qualifier TI 8 waktu itu. Tidak berhenti disitu saja, Tigers dengan rosternya juga pernah memenangkan turnamen Dota 2 Minor Dream League Season 10. Achievement, dari tim ini cukup lumayan loh. Kamu bisa lihat lengkapnya dibawah ini ya.

Achievement tim Tigers. Dok: Liquipedia

Pada kasus kali ini, author akan membahas tentang scam atau fraud. Scammer atau bahasa indonesianya penipu. Satu kata yang perlu benar-benar ditelisik terlebih dahulu karena bahaya bisa jadi malah fitnah. Tapi tidak fitnah lagi jika ada buktinya loh. Ternyata oh ternyata, dua mantan pemain Tigers dalam sosial medianya mengungkapkan bahwa mereka berdua tidak pernah dibayar.

Tweet Moonmeander terkait kasus GESC dan Tigers

Terlebih lagi, pemain favorit dan kebanggan kita, Xepher yang pindah dari RRQ ke Tigers juga menambahkan betapa tertipunya dirinya. Xepher juga mengungkapkan di sosial media, tepatnya di Instagram dengan mengcapture postingan dari Moonmeander di Twitter. Dalam postingannya Xepher menambahkan bahwa Tigers juga belum membayarkan gaji Xepher selama 2 bulan. Bayangkan, mereka pernah memenangkan turnamen Minor Dota 2 tapi gaji belum dibayar! sangat disayangkan sekali.

Pemain Indonesia menyayangkan mismanajemen dan turnamen abal-abal. Source: Instagram Xepher

Turnamen Abal-Abal

Turnamen abal-abal adalah sebuah tumor dalam dunia Esports. Memang sangat jarang terjadi, tapi apabila kejadian, dampaknya sangat dahsyat. Kredibilitas dan berita miring yang disebabkan oleh turnamen kaleng-kaleng ini bisa membunuh scene amatir atau event organizer turnamen yang baru saja merintis event esports pertamanya. Belum lagi, bakal banyak stakeholder yang skeptis untuk mengembangkan atau berinvestasi di dunia esports. Dalam kasus ini terdapat dua turnamen abal-abal bernama GESC yang diselenggarakan oleh satu orang yang sama, Oskar Feng. Satu lagi yang bikin miris turnamen tersebut juga dihelat di Indonesia, walau selain itu GESC juga turut dilaksanakan di Thailand.

Kejadian ini juga sampai membuat salah satu personaliti Dota 2, Cyborgmatt turut prihatin. Cyborgmatt turut mengecam GESC dengan membuat surat open letter kepada Valve. Dalam surat itu Cyborgmatt menyebut bahwa GESC masih berhutang lebih dari $750,000 kepada para pemain dan juga staf yang dilibatkan dalam dua turnamen, GESC Thailand dan GESC Indonesia. Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, Cyborgmatt juga mewanti-wanti bagi para pemain Dota 2 dan semua pihak yang terlibat untuk hati-hati terhadap Oscar Feng ini. Dengan klaimnya sebagai EO sukses di dua turnamen bisa jadi dia membuat penipuan yang sama di region lain atau di game lainnya.

Cuplikan Open Letter dari Cyborgmatt ke Valve dan komunitas Dota 2. Source: Cyborgmatt

Closing Thoughts Author

Untuk menyimpulkan artikel kali ini, author akan memberikan 3 lesson learned bagi kita semua, yaitu:

Pentingnya manajemen profesional dalam tim esports
Bagi para pemain dan staff di Forward Gaming, hal ini sangat merugikan. Walaupun dalam kutipannya, mereka sudah menginformasikan kesulitan keuangan sejak Juni kemarin tetapi tetap saja kesulitan tersebut tidak bisa ditanggulangi oleh manajemen. Satu hal lagi yang mencengangkan adalah organisasi ini menggunakan uang hadiah turnamen untuk mengcover gaji pemain di bulan Juni. Disitu bisa kita lihat kalau ada mismanajemen keuangan dari organisasi Forward Gaming. Karena pada hakikatnya, gaji dan pendapatan dari turnamen seharusnya dipisah.

Belum lagi, sebelum menyatakan disband kurang ada inisiatif dari organisasi untuk menemukan rumah baru bagi para pemainnya untuk perhelatan Dota 2 paling populer yaitu TI. Dengan bubarnya Forward Gaming, otomatis pemain juga akan terbagi waktunya untuk mengurusi masalah administrasi. Alih-alih mereka bisa fokus untuk latihan di TI 9, mereka malah harus mencari manajemen baru untuk menaungi diri mereka sendiri.

Scene tier 2 yang tidak stabil dan penuh tipu daya  sangat merugikan pemain profesional Dota 2

Satu hal yang bisa kita ingat adalah sulitnya menembus tier 1 scene di Dota 2. Hal ini diamini juga oleh Moonmeander pada postingan Twitternya. Sangat susah bagi para pemain Dota 2 untuk menggantungkan hidupnya di scene professional kalau kamu bukan di tim top. Untuk merintis tim dan bertahan di tim yang sama merupakan suatu tantangan tersendiri bagi para pemain. Belum lagi jika ada kejadian seperti ditipu ataupun turnamen yang tidak membayar.

Tier 2 scene atau amatir scene di Dota 2 saat ini merupakan sebuah keniscayaan. Banyak orang-orang licik diluar sana yang memanfaatkan hype esports untuk menguras habis uang tanpa mempedulikan scene ini kedepannya. Bagi kamu, kita, ini adalah waktunya untuk saling mengingatkan dan waspada. Yuk kita jaga scene esports, terutama Dota 2 agar selalu bisa berkembang ke arah yang lebih baik.

Perlunya ada lembaga atau aturan dari Valve/pemerintah untuk memverifikasi organizer turnamen terlebih dahulu

Nah jika teman-teman menyimak artikel ini, kalau diperhatikan semua kejadian abu-abu ini terjadi di scene Asia Tenggara. Mulai dari tim yang tidak membayarkan gaji dan bagian hasil juara turnamennya hingga turnamen abal-abal, semuanya terjadi di Asia Tenggara. Bahkan pemain Indonesia juga ikut terkena efek kerugiannya. Satu hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kejadian ini. Salah satunya adalah ada sikap proaktif dari lembaga peraturan seperti pemerintah atau Valve sendiri untuk memverifikasi EO apakah mereka valid dan track recordnya baik atau tidak.

Salah satu konsep lain yang bisa diterapkan juga adalah dengan menggunakan Valve sebagai Escrow Fund bagi turnamen organizer. Dengan ini turnamen organizer perlu mentransfer uang hadiah turnamen atau bahkan uang untuk gaji karyawan di turnamen tersebut kepada Valve atau otoritas yang ditunjuk oleh Valve terlebih dahulu. Sehingga nantinya akan ada kepercayaan bagi personaliti, staf, dan pemain untuk mendukung berlangsungnya turnamen esports. Alhasil scene esports bakal makin jaya deh.


Nah itulah opini dari author untuk kasus menyedihkan di dunia esports. Kasus ini memang terekspos karena profil pemain dan orang-orang yang terlibat juga tinggi dan termasuk profesional tier 1 di dunia Dota 2. Nah menurut author pasti banyak nih kasus-kasus lain yang belum mencuat ke permukaan. Tidak usah jauh-jauh, kamu pernah gak mengalami kasus seperti yang dialami pro-pro player ini? Kalau pernah yuk ceritain di comment juga ya.

Jangan lupa kunjungi kami di :

AEGIS (Akademi Esports Indonesia)

Website : www.ae-gis.id

Instagram : aegis.gg

Facebook: @aegis.id